Selasa, 09 Juni 2009

TAFSIR SURAT AZ ZUKHRUF AYAT 9 -13

Materi Pokok : QS. Az-Zukhruf ayat 9-13
Kompetensi Dasar : mengidentifikasi macam-macam nikmat allah
Standar kompetensi : mengenali nikmat Allah dan mensyukuri
Terjemah surat az-zuhruf ayat 9-13
9) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.
10) Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.
11) Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)
12) Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.
13) Supaya kamu duduk di atas punggungnya kamudian kamu ingat ni’mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.
HIDUP HARUS DIMULAI DENGAN SYUKUR
Tafsir surat Az-Zukhruf: Ayat 9-13. Materi pelajaran kelas I (satu) Aliyah semester I. Tafsir ini didasarkan atas kitab tafsir: Ar-Roozi, At-Thobary, dan Al-Maawardii.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi beserta isinya adalah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, namun demikian mereka menyembah selain Allah dan mengingkari kekuasaan-Nya untuk membangkitkan (ummat manusia), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Kemudian Allah merinci ciptaan-ciptaan-Nya yang menunjukkan sifat-sifatnya:
• Sifat pertama: Al-Kholiq. Dia Pencipta langit dan bumi. Para Ahli teologi menjelaskan bahwa perbuatan pertama Allah adalah mencipta. Oleh sebab itu Allah memulai dengan menyebut diri-Nya sebagai Pencipta. Hal ini jika kita menafsir kan kata “Khalq” dengan “Ihdats dan Ibdaa’ “.
• Sifat Kedua: Al-Aziz yang berarti Yang Menang (al-ghaalib), Yang mengungguli, dan yang menghasilkan kemapanan, yaitu, kekuasaan (qudroh). Al-Aziz adalah kekuasan (kemampuan) yang sempurna.
• Sifat ketiga: Al-Aliim, yaitu, yang menunjukkan kesempurnaan ilmu. Kesempurnaan ilmu dan kekuasaan jika terintegrasi dapat membuat seseorang mempu menciptakan apa pun. Oleh sebab itu Allah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat ini.
• Sifat keempat: Dia yang membuat untukmu bumi sebagai “mahdan” (terhampar seperti karpet). “Mahdan” mengandung pengertian bahwa ia diam, tenang, bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan pembangunan untuk menutup aib orang-orang yang hidup dan yang mati. “Mahdan” juga mengandung pengertian sebagai tempat beristirahat bagi bayi . Bumi dibuat seperti “mahdan” karena banyaknya peristiwa istirahat di atasnya.
• Sifat kelima: Dia yang membuat jalan-jalan untukmu diatas bumi. Maksudnya, bahwa manusia bisa memanfaatkannya hanya jika dia bisa bepergian dari satu negeri ke negeri yang lain dan dari satu iklim ke iklim yang lain. Hal ini karena Allah menyediakan jalan-jalan ini dan meletakkan di atasnya tanda-tanda khusus karena jika tidak demikian, maka manusia tidak bisa mengambil manfaat.Kemudian Dia berfirman, “Agar kalian mendapat petunjuk”. Maksudnya, pertama, agar kalian bisa mengambil petunjuk dalam hidup. Kedua, agar dapat petunjuk kepada kebenaran dalam agama.
• Sifat keenam: Dia yang menurunkan dari langit air dengan kadar (ukuran) kemudian Kami hidupkan negeri yang mati. Di sini ada beberapa uraian: Pertama, Secara eksplisit bahwa air turun dari langit. Atau turun dari awan. Disebut turun dari langit karena setiap yang ada di atas kita adalah langit. Kedua , yang dimaksud dengan kadar adalah bahwa air turun dari langit sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan oleh suatu tempat tanpa lebih atau kurang, tidak seperti yang diturunkan kepada ummat nabi Nuh tanpa kadar yang pas sehingga menenggelamkan mereka, tetapi diturunkan dengan kadar yang pas sehingga menjadi sumber kehidupan bagi kita dan binatang ternak kita. Ketiga, firman-Nya, “Kami hidupkan dengannya negeri yang mati.” Negeri yang gersang tidak ada tumbuh-tumbuhan, lalu Kami hidupkan ia. Itulah ‘isnyaar’.
” Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan…” Dalam hal ini ada 4 pendapat:
• Pertama, golongan-golongan seluruhnya. Ini pendapat Said bin Jabir.
• Kedua, pasangan-pasangan dalam binatang: jantang dan betina. Ini pendapat Ibnu Isa.
• Ketiga, Pasangan-pasangan seperti musin hujan dan musim kemarau, siang dan malam, langit dan bumi, matahari dan bulan, surga dan neraka. Ini pendapat Al-Hasan.
• Keempat, pasangan-pasangan semacam pergantian yang terjadi pada manusia antara kebaikan dan kejahatan, iman dan kufur, kaya dan miskin, sehat dan sakit.
“… dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.” Yang dimaksud binatang ternak ada dua pendapat. Pertama, Unta dan sapi, pendapat Said bin Jabir. Kedua, Unta saja, pendapat Mu’adz.
“… dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” Kata “Muqrinin” mempunyai 3 pengertian. Pertama, Mengontrol. Ini pendapat Akhfasy. Kedua, bandingan dalam kekuatan, pendapat Qatadah. Ketiga, menanggung. Ini pendapat Ibnu Abbas.
• URAIAN PENULIS
Ayat ini menggambarkan dengan jelas sikap inkonsistensi orang-orang musrik. Allah menggambarkan sikap orang-orang musyrik yang mengakui bahwa pencipta langit dan bumi adalah Allah, namun demikian, mereka menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Ini inkosistensi. Sikap inkonsistensi ini bisa saja terjadi pada kasus-kasus yang lain.
Kalau kita kaji urutan-urutan logis bagaimana ayat-ayat ini disusun, kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa Allah tidak menghendaki sikap inkonsistensi ini terjadi pada kasus hubungan antara Sang Pemberi nikmat dan penerimanya.
Pada bagian (surat) lain dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa jika kita berusaha untuk menghitung nikmat-Nya niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya. Dari sekian nikmat yang tak dapat dihitung itu, pada ayat-ayat di atas, Allah merinci nikmat-nikmat-Nya mulai dari yang ada di langit berupa hujan, yang ada di darat berupa bumi yang subur oleh tumbuh-tumbuhan dan hidup hewan-hewan, hingga yang ada di lautan berupa kapal-kapal yang berlayar di atas laut. Lalu ayat-ayat ini ditutup dengan seruan agar kita mengingat nikmat-nikmat itu dan mengakui kemurahan-Nya dengan berucap, “Maha Suci Allah yang telah menaklukkan ini semua untuk kita.”
Acapkali kita sadar bahwa yang memberi nikmat adalah Allah tetapi kita lalai untuk bersyukur kepada-Nya atau justru kita bersyukur bukan kepada Allah. Manusia mudah lupa terhadap apa yang dia terima dan mudah mengingat apa yang dia beri. Ketika kita dapat mengingat apa-apa yang telah kita terima dari Allah, ucapkan: “Subhanallah! Luar biasa! “Subhaanalladzi sakhkhara lanaa haadzaa…”
Subhanallah, betapa banyak nikmat yang telah Engkau berikan dan sebanyak itu pula kami telah lalai. Subhanallah, betapa besar kenikmatan yang kami rasakan, sampai-sampai kami tidak mampu mensyukurinya. Syukur kami sungguh tidak sebanding dengan limpahan nikmat-Mu. Udara yang kami hirup, bumi yang kami pijak, lautan yang kami sebrang, sungguh suatu kenikmatan yang tiada tara. Kami tidak bisa membandingkan itu semua. “Wamaa kunnaa lahuu muqriniin”. Demikian ayat-ayat itu ditutup dengan indah.
Jika dikaji dari sudut pandang yang lain kita akan menemukan pemahaman yang menakjubkan. Nikmat Allah, ternyata, bukan saja yang ada di langit, darat, dan laut. Tetapi juga termasuk kenikmatan yang yang kita rasakan ketika kita memanfaatkan media komunikasi dan transportasi. Pada ayat di atas ada isyarat akan terciptanya alat komuniasi dan transportasi.
Kata “subul” (jalan-jalan) dalam ayat di atas bukan saja berarti jalan yang ada di darat, tetapi juga termasuk rute laut dan udara, kanal, railway, dan airway. Juga termasuk dalam pengertian “subul” adalah media komunikasi berupa telepon, internet, dan infrastruktur lainnya.
Sedangkan kata “an’aam” (binatang ternak) dan kata “fulk” (kapal laut) merupakan representasi dari media transportasi. “An’aam” berarti media transportasi tradisional berupa: Kuda, Unta, sapi, kerbau, gajah, dan lain-lain. Adapun “fulk” merupakan representasi dari transportasi modern yang menggunakan teknologi.
Domistikasi (penjinakan)binatang dan invensi (penemuan) teknologi membutuhkan skill dan kejeniusan pada manusia, yang itu semua merupakan anugerah dari Allah.Bahkan kata “Azwaaj” (pasang-pasangan), kalau pengertiannya diperluas mencakup semua pasang-pasangan yang ada pada manusia, binatang, dan mungkin pada benda-benda lain yang mungkin kita tidak tahu. Di udara misalnya, ada pasangan antara energy positif dan negatif, yaitu, positive electricity dan negative electricity seperti pada kasus terjadinya petir.
Pada unsur terkecil sekalipun, seperti atom, di dalamnya terdapat pasang-pasangan berupa proton dan electron. Subhanallah! Luar biasa ciptaan Allah! Luar biasa ni’mat Allah yang telah disediakan untuk manusia. Begitu manusia lahir dan membuka mata segala sesuatunya telah tersedia. Dia bisa menghirup oksigen dari udara yang segar, di kanan kirinya ada tumbuhan yang buahnya bisa dimakan, di bawahnya mengalir air yang setiapkali bisa diminum. Dia bisa berjalan tegak di atas bumi yang terhampar. Kebutuhan logistik dan infrastruktur telah tersedia. Oleh sebab itu kata pertama yang harus dia ucapkan begitu bisa berbicara adalah “al-hamdulillah”. Itu benar, karena kitab panduan yang dikeluarkan Penciptanya sebagai tuntunan operasional manusia, yakni al-Qur’an, dibuka dengan kalimat, “Alhamdulillahi rabbil alamin”
Memang selayaknya, hidup ini harus dibuka dengan kata syukur. Segala sesuatu diciptakan hanya untuk kepentingan manusia. Kalaupun ada laut, sungai, batu, tumbuh-tumbuhan, binatang, malaikat dan sebagainya, itu semua diciptakan hanya untuk kepentingan manusia. Manusia adalah masterplan dan sekaligus masterpiece Allah di muka bumi. Alam semesta dicipta hanya untuk mengabdi pada kepentingan manusia.
“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami … ”
Allah yang telah menundukkan hati mereka sehingga mereka datang ke pondok kita dengan merangkak, berjalan, dan berlari. Allah yang telah menundukkan hati mereka sehingga mereka datang dengan seribu bahkan dengan milyar.Mari kita bersyukur kepada Allah, Wallaahu khoirur rooziqiin (Allah sebaik-baik pemberi rizki).
Diambil dari tulisan Asinulyaqin dihttp://pesantren-uqi.site90.net/?p=16#more-16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar